BUDIDAYA IKAN DI LAHAN GAMBUT


Perkembangan budi daya ikan air tawar di Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas Provinsi KalimantanTengah masih didominasi budidaya kolam menggunakan air sistem pasang surut mengandalkan naik turun air sungai.


Hal itu sering terkendala datangnya air asam dengan Ph rendah kurang lebih 3 yang berasal dari lahan gambut sehingga menyebabkan kematian ikan budidaya di dalam kolam. Faktor keasaman air yang menjadi kendala bagi pengembangan budidaya ikan di wilayah tersebut


Komoditas yang dipilih adalah didominasi ikan patin siam (pangasius hypophthalmus) karena memiliki nilai ekonomis tinggi dan cenderung lebih tahan terhadap oksigen rendah dan keasaman air. Sedangkan ikan nila (oreochromis niloticus) adalah salah satu komoditas unggulan Kementerian Kelautan dan Perikanan disamping mampu bertahan terhadap lingkungan yang buruk.

Pembudidayaan ikan di lahan gambut dimulai persiapan kolam dengan pengeringan dan pengolahan tanah untuk membuang seluruh air dan lumpur hingga dasar kolam. Kemudian pengapuran memakai kapur tohor untuk membasmi hama atau penyakit, memperbaiki struktur tanah dan menaikkan Ph dengan dosis kurang dari 300 gram/meter persegi.

Selanjutnya, pemupukan setelah 3-5 hari pengapuran. Setelah itu kolam didiamkan paling lama 15 hari untuk menunggu Ph air mencapai 5 sehingga benih ikan bisa

ditebar.


Sebelum penebaran benih ikan harus diukur kualitas air terutama Ph. Jika Ph minimal telah mencapai 5 baru bisa ditebar benih ikan dilanjutkan pemeliharaan ikan.

Budidaya ikan patin yang dilakukan cukup berhasil dengan produktivitas kolam 600 meter persegi per siklus 8 bulan panen 3,6-4,4 ton dengan keuntungan Rp9,3 juta.

Sementara, produktivitas budidaya ikan nila dengan luas kolam 600 meter persegi per siklus 5 bulan sebesar 0,96-1,2 ton dan keuntungan sebesar Rp6,1 juta.

Komentar